Senin, 07 November 2011

Sekularisme

Sekularisme Sebagai Racun Pemikiran
     Suatu hari KH Ali Mustofa Yaqub ditanya wartawan al-Jazirah tentang jamaah Masjid Istiqlal yang afiliasi politiknya berbeda. Beliau menjawab: ''Saat masuk masjid, mereka melepas baju politiknya. Hanya baju sebagai hamba Allah saja dipakai. Tapi, ketika keluar masjid baju politiknya kembali dipakai. Akhirnya, berbeda-beda lagi''.

Maksudnya, agama dan politik terpisah bagai bumi dan langit. Begitulah sekularisme. Bukan dari Islam paham ini muncul. Baratlah biang keroknya. Kekecewaan Barat terhadap Kristen membuat Nietzche berkoar-koar tentang kematian Tuhan.
Dalam pandangan yang lebih moderat, Tuhan cukup diposisikan di gereja, tidak lebih. Wajarlah bila Harvey Cox dalam the Secular City memandang sekularisasi sebagai keniscayaan hidup. Akibatnya fatal sekali. Ekonomi, budaya, dan politik berseteru dengan agama.

Proses sekularisasi
Berhubung agama sudah termarginalkan, nilai-nilai kehidupan tidak lagi agamis. Dunia tidak mengenal syariat. Alam dipandang secara biologis semata. Kejanggalan ini akibat deconsecration of value. Nilai sosial adalah karya cipta manusia sendiri. Asasnya omong kosong protagoras man is the measure of everything.

Karena manusia penentunya, dunia semakin tidak terarah. Kesatuan alam rohani dan jasmani dianggap bohong. Pandangan spiritual tentang alam menjadi omong kosong. Yang ada hanya alam yang berjalan secara jasmani saja. Max Weber (1864-1920) menyebutnya dengan disenchantment of nature. Akibat paham ini, manusia ibarat robot: berkulit tapi berdaging kabel. Jean François Lyotard menyebutnya inhumanity.

Karena nilai tidak diambil dari agama, kemudian alam tidak lagi sakral, manusia berjalan tanpa arah. Bersiyasat tanpa peduli moral. Tidak ada lagi politik agamis atau dikenal dengan desacralization of politic. Yang terjadi adalah lapar kekuasaan dan haus jabatan. Asasnya adalah will to power kata Nietzche. Alfred Adler menambahkan bahwa tujuannya striving for superiority. Manusia tidak lagi merendah, tapi terus angkuh seperti Fir’aun yang terlaknat (QS al-Anfal: 54).

Semua proses tersebut mengarah kepada sekularisasi. Patokannya ada pada waktu terkini dan pada tempat tertentu saja. Yang lalu dimuseumkan, diganti dengan kekinian.Tempat juga menjadi acuan berlakunya kebijakan. Aceh menerapkan syariat. Kota lain tidak. Nuklir Iran dianggap membahayakan dunia, sedangkan nuklir Israel dianggap sumber kedamaian meski untuk menjagal umat Islam.

Semua jadi rancu. Kebenaran dan kesalahan saling tukar tempat. Tabiat manusia tidak lagi mengakui perkataan Ibnu Khaldun, manusia sebagai makhluk sosial. Mereka lebih percaya teori kepentingan politik Habermas atau teori kuasa Foucault.

Kesenjangan ekonomi
Keterpisahan ekonomi dengan agama terlihat dalam sikap terhadap produk dan konsumen. Seharusnya tidak sembarang produk dapat dijual atau dibeli. Halal atau haramnya suatu produk menentukan sah tidaknya jual beli. Perlakuan konsumen akan baik jika bermodal besar. Bagi yang tidak silakan angkat kaki.

Karena sekuler, minuman keras dan psikotropika mudah ditemukan. Perlakuan konsumen tidak tertuju kepada mereka yang membutuhkan, tapi yang bermodal. Untung selangitlah yang dikejar, sedangkan kesejahteraan sosial termarginal. Beras dikonsumsi pemodal, bukan orang tak bertempat tinggal. Prinsipnya modal kecil, untung besar.

Cara meraih keuntungan ini yang bermasalah. Seharusnya tak sekadar mengais keuntungan, tapi juga membantu orang tidak mampu. Jika ini dilakukan maka bukan keuntungan dunia saja (QS Albaqarah: 261), tapi juga akhirat akan diraih, yaitu kesucian jiwa (QS Al-Taubah: 103). Sayangnya, ekonomi sekuler miskin kepedulian sosial. Alhasil, 379,6 ribu jiwa penduduk Jakarta tidak sejahtera meski roda perputaran perekonomian sangat kencang.

Carut-marut budaya
Karena tidak sejahtera, profesi apa pun dilakoni. Bekerja sebagai WTS dinikmati karena untuk mengurangi impitan ekonomi. Yang lebih mengenaskan lagi mereka tidak merasa berdosa. Akibat tidak merasa berdosa akhirnya tidak mampu mencegah kemungkaran budaya. Zina tidak apa-apa. Meskipun sudah disahkan, UU Antipornografi dipandang sebelah mata. Semua terjadi karena agama bukan lagi arah kehidupan.

Masalahnya, bukan budaya berasal dari agama. Sebaliknya, agama berasal dari budaya. Agama bisa diubah seenaknya, sesuai tren budaya sekarang. Manusia semakin besar kepala karena Ludwigh Feurbach memandang manusia adalah Tuhan dan begitu sebaliknya.

Karena manusia sendiri yang memutuskan, akhirnya free sex tidak masalah. Rujukannya kebebasan seksual pada zaman Yunani dan Romawi. Manusia dan binatang tidak berbeda karena berhubungan badan di mana saja. Tidak heran bila akhirnya kedua peradaban itu binasa.

Keganasan politik
Kesamaan dengan binatang juga terjadi di politik. Sesama politikus saling sikut, berebut kekuasaan. Joseph Stalin dan Nikita Kruschev saling sikut demi kursi kekuasaan Soviet. Begitu juga dengan Obama dan McCain saat menghadapi pemilihan presiden.

Bukan hanya pada pemilihan politik sekuler bermasalah, dalam menjalankan pemerintahan pun begitu. Selalu ikut campur dalam mengatur kebijakan negara lain, seperti yang dilakukan Amerika terhadap Palestina dan Israel. Politik sekuler tidak memiliki kriteria pemimpin bangsa. Dalam demokrasi sekuler, presiden bisa hanya tamat SMA. Jauh berbeda dengan politik Islam.

Al-Farabi berpendapat pemimpin negara harus mampu berkomunikasi batin dengan Tuhan, seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Ibnu Taimiyyah mensyaratkan kepercayaan. Pemimpin harus bisa menjaga kepercayaan rakyatnya. Jajaran pembantu kepemimpinannya pun harus orang-orang potensial, bukan pembawa sial.

Inti seorang pemimpin adalah ilmu. Pemimpin yang sesungguhnya pasti berilmu dan tidak sekuler. Hanya dengan ilmu roda pemerintahan berputar sesuai dengan porosnya. Jika pemimpin sekuler, maka dia hanya pemimpin keduniaan. Hitler contohnya.

Dia tidak segan-segan membunuh manusia. Kalaupun ada pemimpin sekuler yang baik pasti tidak lama. John F Kennedy, misalnya, tewas tertembak di Dallas tahun 1963. Hanya tiga tahun dia memerintah Amerika.Berbagai hal yang berbau sekuler pasti menuju ketidakpastian. Arnold A Loen membuktikan hal itu. Pengetahuan–pengetahuan sekuler terus berubah menuju arah yang tidak jelas.

Islam dan sekularisme
Sekularisme kental dengan miliu Barat yang bertentangan dengan Islam. Amat salah jika Abdullahi Ahmed al-Naim mengatakan sekularisme dalam Islam adalah keniscayaan. Dalam Islam, ilmu dengan agama selaras.

Kata '>ilm tidak bisa diterjemahkan 'ilmaniyah yang berarti sekuler. Selama Allah menjadi sumber ilmu, tidaklah mungkin orang berilmu itu sekuler. Berilmu tak sekadar menguasai ilmu-ilmu teknis, tapi menghayati dan memahami ilmu-ilmu keagamaan.

Dengan ilmu tersebutlah manusia akan tunduk kepada Tuhan, mengitari Ka'bah layaknya malaikat berputar mengelilingi 'Arsy (QS al-Zumar: 75). Syed Muhammad Naquib Al-Attas menambahkan, kalaupun sekuler berarti keduniaan, dia tetap tidak bisa disandingkan dengan kata dunya yang asal katanya dana.

Ini karena menurutnya kata tersebut berdekatan dengan kata din yang berarti agama. Meskipun tidak sesuai masih dipaksakan oleh al-Na'im dan pemikir liberal lainnya. Kepentingannya untuk menyerang Islam. Meskipun diserang, Islam gigih menghadang Barat, begitu komentar Edward Said dalam bukunya Orientalism. Tujuan serangan pemikiran itu untuk memecah belah umat agar tidak berjamaah dalam hidup, sebagaimana shalat berjamaah di Istiqlal, seperti diceritakan KH Ali Mustofa Yaqub di atas.


Ikhtisar:
- Sekularisme cenderung menghalalkan segala cara.
- Selama Allah menjadi sumber ilmu, tidaklah mungkin orang berilmu itu sekuler.
- Ilmu harus berfungsi untuk makin mendekatkan diri dengan Allah,,.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar