Sabtu, 19 November 2011

Aswaja Era Globalisasi

ASWAJA DI ERA GLOBALISASI

 Memahami dan membentengi Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja) di masa kini tidak saja perlu, tetapi jia penting untuk menerapkan dan mempertahankan akida h ke depan. Apalagi di era sekarang ini, tantangan dari berbagai aliran sesat semakin marak di mana-mana. Maka pendidikan keimanan dan akidah harus digalakkan, agar pemahaman tentang Aswaja benar-benar membumi di tengah umat.
Pendidikan Aswaja harus dimulai sejak dini di madrasah-madrasah di Indonesia. Diharapkan sejak awal, umat ini mengenal akidahnya secara benar, sehingga memiliki resistensi (daya tolak) terhadap ancaman dan tantangan dari luar yang terasa semakin tinggi intensitasnya.
Saat ini semakin banyak faham agama yang bemunculan, umat masih bingung , aliran bagaimana yang sesat dan faham apa yang selamat. Apalagi mereka juga kurang memahami apa dan bagaiaman Ahussunnah wal Jama’ah.
Salah satu keprihatinan yang terjadi di tengan umat Islam di negeri ini adalah kerancuan dalam memahami mengenai manhaj (metode berfikir) dan madzhab Ahlussunnah wal Jama’ah mengakui ada empat madzhab mayoritas dalam masalah fikih, yaitu Madzhab Hanafi, madzhab  Maliki, madzhab Syafi’i dan madzhab Hanbali. Walaupun kenyataanyya di Indonesia madzah Syafi’ilah yang mayoritas diikuti oleh mayoritas umat Islam.
Dalam intern umat Islam Ahlussunnah wal Jama’ah sering terjadi gesekan gara-gara perbedaan faham dalam sebuah hokum.  Padahal perbedaan antar madzhab itu namanya ikhtilaf, yang masih diperbolehkan atau dapat ditoleransi. Karena terjadi dalam masalah furu’iyah (masalah di luar akidah). Sedangkan perbedaan dalam akidah (teologi dan ideologi) itu disebut iftiraq (sempalan), yang tidak bias “diampuni” (dibenarkan, pen). Itu artinya faham Aswaja yang dianut mayoritas muslimin di Indonesia sangat tajam dengan Ahmadiyah, Syi’ah, Isma’iliyyah dan sebagianya (transnasional) dan al-Qiyadah al-Islamiyah, Islam murni, Islam Haq dan seterusnya (nasional), karena non aswaja itu sudah jauh mengalami diviasi (penyimpangan akidah) dari standar Al-Qur’an dan As-Sunnah.
Meresmikan Ajaran Ahlussnunnah wal Jama’ah
Selain pembentengan ke dalam, berbagai ormas Islam Aswaja seharusnya mengusulkan pemerintah untuk mengundangkan Aswaja sebagai aliran resmi Negara, sebagai representasi faham yang dianut oleh mayoritas masyarakat. Jika di Iran saja yang mayoritas syi’ah sudah menetapkan syi;ah sebagai agama/keyakinan resmi pemerintah yang tidak bias diamandemen, masak Aswaja di sini yang lebih dulu berdaulat tidak bias memperjuangkan aspirasi yang menjadi representasi rakyat banyak? Tidak bias menjadikan Aswaja sebagai faham resmi (yang diakui Negara?) Kita tentu yakin pemilih terbesar dalam pemilu parpol itu insya Allah pasti Sunni! Maka mestinya lewat badan legislatif hal tersebut dapat diperjuangkan ke depan.
Untuk itu diharapkan partai-partai Islam di negeri ini, melalui wakil-wakilnya di DPR pada masa mendatang bias mengegolkan Undang-undang yang menetapkan Aswaja sebagai faham resmi Negara. Hal ini bertujuan agar supaya eksternal (pihak-pihak luar) untuk merusak Aswaja yang sudah ratusan tahun menjadi keyakinan umat ini tidak bias terlaksana. Masalahnya sekarang ini zamannya sudah berubah dan berbeda. Dengan mengatasnamakan Hak-hak Azazi Manusia (HAM) bias saja berbagai aliran yang ada sekarang sengaja menghancurkan mayoritas keyakinan umat, untuk selanjutnya menancapkan hegemoni dan ideology mereka di negari ini. Mereka sesame aliran dan faham sempalan bisa bersatu padu untuk menumpas Aswaja.
Sementara ancaman pelbagai sempalan itu akhir-akhir ini semakin terasa menekan Aswaja, namun tidak mendapat “perlawanan” yang memadai dari para ulama’ dan cendikiawan dari kalangan Aswaja sendiri. Sebab mungkin citra mereka yang sudah semakin canggih yang jarang disadari oleh para cendikiawan Aswaja. Apalagi media yang mereka gunakan juga semakin luas. Mereka menerbitkan buku-buku dan media cetak lain untuk mempengaruhi umat. Mereka kadangkala juga menggunakan CD dan VCD untuk propaganda.
Kelengahan Umat Islam Akibat Ketidaktahuan
Penganut Aswaja di Indonesia kini bagaikan di persimpangan jalan. Mereka dibuat bingung karena selain tidak memahami Aswaja secara seksama juga karena tidak mampu mengidentifikasi aliran-aliran sesat. Sehingga kritik-kritik mereka yang anti Ahlussunnah wal Jama’ah ditelan begitu saja, padahal belum tentu kritik itu benar atau konstruktif. Mereka bertujuan untuk menghapus empat madzhab, yang ditikan dengan cara mempermasalahkan hadits-hadits yang dibawa oleh para pemuka sahabat Nabi. Jika haditsnya sudah mampu mereka kontaminasi dengan keragu-raguan, maka dengan mudah madzhabnya ditebang.
Misalnya ada pihak-pihak yag mempermasalahkan dan mempertanyakan kebanaran kitab-kitab Imam Bukhari dan Imam Muslim. Mereka mengeritik hadits-hadits yang ada dalam kitab Bukhari-Muslim itu. Namun umumnya umat awam diam saja. Karena  ketidaktahuannya terhadap mereka yang mengeritik dan apa yang dikritik itu, padahal kritik mereka salah dan bukan pada tempatnya. Sebab mereka hanya mengambil sepotong saja, atau kadangkala hany a mengambil teks tanpa melihat konteks isi hadits Nabi.
Misalny saja, tentang hadits tawar-menawar jumlah waktu shalat dalam peristiwa Isra’ Mi’raj Nabi SAW. Mereka mengritik kebenaran Hadits yang sudah diakui mayoritas ulama’ itu. Menurut mereka apa benar dan masuk akal, Allah yang memiliki kekuasaan dan kewenangan mutlak kok bias ditawar-tawar, padahal yang disebut itu sebagi bentuk belas kasih Allah kepada umat Muhammad SAW?
Kritik mereka sepintas masuk akal, tapi tetap keliru. Kalau tawar-menawar bilangan shalat itu dipermasalahkan, berarti mereka juga tidak menerima ayat al-Qur’an. Dalam surat Al-Ahzab ayat 72 Allah SWT. menawarkan amanat untuk menjadi khalifah di muka bumi kepada langit, bumi dan gunung-gunung tetapi semuanya menolak. Apakah ayat yang menceritakan tawa-menawar amanat juga ditolak, seperti mereka menolak tawar-manawar shalat?
Tujuan sempalan itu bukan mau membangun ukhuwah, namun dalam kenyatannya  mau membunuh dengan cara dekonstruksi (membongkar) ajaran Aswaja sebaimana yang digunakan oleh Jaringan Islam Liberal (JIL). Pekerjaan mereka hanya membongkar (dekonstruksi) tanpa ada solusi tawaran yang baik, karena niat mereka Cuma mau merusak kemudian untuk menguasai.
Nah, di sini diperlukan kewaspadaan yang tinggi dari semua pihak, agar generasi muda kita tidak mudah dibelokkan dengan cara-cara yang sepintas terkesan cerdas namun kenyataannya merusak. Bagaimana cara yang efektif untuk mengatasi berbagai ancaman dan tantangan eksternal terhadap Aswaja Indonesia itu?
Pertama, adalah pengefektifan pendidikan Aswaja yang memadai kepada generasi muda agar memiliki resistensi (daya tahan) yang tinggi terhadap kehadiran sempalan yang kadang sulit dideteksi ini.
Kedua, mempererat ukhuwah kedua ormas Islam terbesar di Nusantara yakni NU dan Muhammadiyah, sebagai wadah formal dan paling terkenal agar tidak mudah dipecah belah oleh sempalan (yang kini sudah membuat wadah tandingan).
Ketiga, segera melakukan counter (serangan balasan) yang sistematis dan terencana terhadap upaya dekonstruksi (pembongkaran) atas Aswaja atau pelecehan terhadap doktrin Aswaja. Misalnya tentang penistaan terhadap pemuka sahabat dan istri Nabi SAW. Bukhari dan Muslim dan t
okoh-tokoh Sunni lainnya.
Keempat, menerbitkan buku-buku yang menyegarkan pemikiran Aswaja sehingga dapat menjadi pegangan bagi genarasi penerus Aswaja ke depan
.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar