Kamis, 08 Desember 2011

Filsafat Materialisme

Filsafat Materialisme
3 May 2009 — maman
Materialisme adalah salah satu paham filsafat yang banyak dianut oleh para filosof, seperti Demokritus, Thales, Anaximanoros dan Horaklitos. Paham ini menganggap bahwa materi berada di atas segala-galanya dan biasanya paham ini dihubung-hubungkan dengan teori atomistik yang berpendapat bahwa benda-benda tersusun dari sejumlah unsur. Ketika paham ini pertama muncul, paham tersebut tidak mendapat banyak perhatian karena banyak ahli filsafat yang menganggap bahwa paham ini aneh dan mustahil. Namun pada sekitar abad 19 paham materialisme ini tumbuh subur di Barat karena sudah banyak para filosof yang menganut paham tersebut. Walaupun teori sudah banyak dianut para filosof, teori ini masih banyak ditentang oleh para tokoh agama karena paham ini dianggap tidak mengakui adanya Tuhan dan dianggap tidak dapat melukiskan kenyataan.
Pengertian dan Beberapa Ajaran Materialisme
Materialisme seringkali diartikan sebagai suatu aliran filsafat yang meyakini bahwa tidak ada sesuatu selain materi yang sedang bergerak. Pikiran, roh, kesadaran dan jiwa tidak lain hanyalah materi yang sedang bergerak. Menurut mereka, pikiran memang ada tetapi tak lain disebabkan dan sangat tergantung pada perubahan-perubahan material. Intinya, mereka menganggap bahwa materi berada di atas segala-galanya. Beberapa pendapat mereka yang lain adalah:
        1. Tidak ada sesuatu yang bersifat non-material separti roh, hantu, setan, malaikat. Pelaku-pelaku immaterial tidak ada.
        2. Tidak ada Tuhan atau dunia adikodrati (supranatural). Realitas satu-satunya adalah materi dan segala sesuatu merupakan manifestasi aktivitas materi.
        3. Setiap peristiwa mempunyai sebab material, dan penjelasan material tentang semua itu merupakan satu-satunya penjelasan yang tepat.
        4. Materi dan aktivitasnya bersifat abadi. Tidak ada Sebab Pertama atau Penggerak Pertama.
        5. Bentuk material dari barang-barang dapat diubah, tapi materi tidak dapat diciptakan atau dimusnahkan.
        6. Tidak ada kehidupan yang kekal. Semua gejala berubah, akhirnya melampaui eksistensi yang kembali lagi ke dasar material primordial, abadi dalam suatu peralih-wujudan kembali yang abadi dari materi.
Sejarah Perkembangan Materialisme
Pada awalnya, materialisme tidak mendapat banyak perhatian karena dianggap aneh dan mustahil. Baru pada abad pertengahan abad 19, materialisme tumbuh subur sekali di Barat. Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan tersebut antara lain:
  1. Orang dengan paham materialisme mempunyai harapan-harapan yang besar atas ilmu pengetahuan.
  2. Paham materialisme berpegang pada kenyataan-kenyataan yang mudah dimengerti, bukan pada dalil-dalil abstrak.
  3. Teori-teorinya jelas berdasarkan teori-teori pengetahuan yang sudah umum.
Namun, paham materialisme banyak ditentang oleh para tokoh agama karena terang-terangan tidak mengakui Tuhan. Seorang anti-materialisme bernama Friedrich Paulsen berkata “Kalau materialisme itu benar, maka segala sesuatu di dunia ini akan dapat diterangkan, termasuk bagaimana atom membentuk teori materialisme itu sendiri yaitu dapat berfikir dan berfilfasaf”. tenyata hal itu sama sekali tak dapat diterangkan oleh kaum materialisme.
Filsafat materialisme inilah yang mempengaruhi filosof alam dalam menyelidiki asal-usul kejadian alam ini. Di antara filosof-filosof alam tersebut adalah:
  • Thales (625-545 SM) berpendapat bahwa unsur asal adalah air.
  • Anaximandros (610-545 SM) berpendapat bahwa unsur asal adalah apeiron, yaitu unsur yang tak terbatas.
  • Anaximenes (585-528 SM) berpendapat bahwa unsur asal adalah udara.
  • Heraklitos (540-475 SM) berpendapat bahwa unsur asal adalah api.
  • Demokritus (460-360 SM) berpendapat bahwa hakikat alam adalah atom-atom yang amat banyak dan halus. Atom-atom itulah yang menjadi asal kejadian alam semesta.
Kaum materialisme menyangkal adanya jiwa atau roh, mereka menganggapnya hanya sebagai pancaran materi. Thomas Hobbes (1588-1679), seorang ahli pikir Inggris beralasan bahwa seperti perjalanan yang tidak lepas dari orang yang berjalan, demikian juga gagasan, sebagai sesuatu yang bersifat rohani juga tidak lepas dari organisme yang berpikir, yang mempunyai gagasan. Materialisme pada abad 18 dan 19 seringkali sangat bersifat mekanistis, seperti pernah diutarakan oleh Holbach (1723-1789) bahwa segi manusia yang tidak kelihatan disebut jiwa, sedangkan segi alam yang tidak kelihatan disebut Tuhan.
Materialisme Dialektika
Di negara-negara komunis, materialisme dialektika merupakan filsafat resmi negara, disingkat menjadi “ diamat ” (dialektika materialisme). Secara singkat, dialektika beranggapan bahwa segala perubahan yang terjadi di alam semesta adalah akibat dari konflik persaingan dan kepentingan pribadi antar kekuatan yang saling bertentangan.
Ahli-ahli pikir yang meletakkan dasar bagi sistem ini adalah Karl Marx (1818-1883) dan Friederich Engels (1820-1895), sedangkan W.E. Lenin mengembangkannya lebih lanjut. Marx dan Engels menggunakan dialektika untuk menjelaskan keseluruhan sejarah dunia. Marx menyatakan bahwa sejarah kemanusiaan senantiasa didasarkan pada konflik, yang terutama antara kaum buruh (proletar) dan masyarakat kelas atas (borjuis). Ia meramalkan bahwa kaum buruh pada akhirnya akan menyadari bahwa harapan satu-satunya untuk mereka adalah bersatu dan melakukan revolusi. Sebelum Marx juga telah ada seorang perintis benama Tschernyschewski (+1889). Sarjana ini melawan dualisme jiwa-badan dengan berpendapat bahwa manusia dapat diterangkan secara tuntas dengan bantuan ilmu kimia dan fisiologi. Yang dianggap sebagai rohani sebenarnya adalah sifat keteraturan dalam organisme yang memberikan reaksi.
Tschernyschewski juga mempengaruhi gurunya Ivan Pavlov (1845-1936). Pavlov melakukan serangkaian eksperimen terhadap anjing yang dibiasakan untuk diberi makanan sambil dibunyikan bel. Anjing tersebut mengeluarkan air liur. Lama-kelamaan, anjing tersebut berliur hanya karena mendengar bel tanpa ada makanan. Pavlov menyebut refleks ini (berliur karena mendengar bel) sebagai refleks bersyarat. Dari sini Pavlov berpendapat bahwa seluruh proses belajar hewani dapat diterangkan lewat refleks-refleks bersyarat.
Marx, Engels dan Lenin juga mengakui bahwa alam rohani mempunyai sifat-sifat khas, tetapi secara dialektika ini tergantung kepada materi. Faham materialisme kuno menjadikan mesin sebagai ukuran untuk menerangkan alam, kehidupan hewani dan manusia. Pendekatan ini tentu tidak memadai karena dunia hendaknya dipandang sebagai suatu proses yang dinamis.
Dalam dialektika alam raya, perkembangan dan penjumlahan kwantitatif pada suatu ketika berbalik secara dialektik dan terjadi suatu perubahan kwantitatif. Lompatan kwantitatif dari energi menjadi unsur kimia. Terus menjadi zat hidup terus lagi menjadi roh merupakan tahap-tahap dialektika dalam alam kebendaan yang dinamis. Tak ada materi tanpa gerak dan dalam perkembangan ini segala sesuatu saling bertalian, tak ada satu gejala yang dapat dimengerti lepas dari gejala-gejala lainnya (lewat abstraksi-abstraksi kita hanya membuat momen-momen saja). Demikianlah teori Hegel diputar dan ditegakkan secara dialektika. Bukan materi yang merupakan hasil dari roh yang berkembang secara dialektika melainkan sebaliknya.
Hegel mengambarkan bagaiman roh mengasingkan diri dari dirinya sendiri karena dalam kenyataan semakin menjadi lahiriah. Hal ini terutama ditampilkannya dalam konsep tentang materi. Menurut Marx pun terjadi semacam pengasingan. Pengasingan itu tak lain adalah kesadaran manusia yang menyatakan diri lewat kerja sama sosial di dalam obyek yakni produk. Produk itulah kesadaran sosial yang terasing terhadap dirinya sendiri. Jadi pengasingan ini niscaya tetapi setiap kali harus dinetralisir lagi dengan menyadarinya. Kesadaran manusia ditentukan oleh keadaan sosialnya dan proses penyadaran diri itu tidak berarti bahwa manusia mengotak-atik hal-hal rohani seperti Hegel melainkan bahwa ia berbuat sesuatu, terdorong oleh kesadaran sosial menuju hari depan.
Ide-ide, menurut Marx tak lain adalah terjemahan barang-barang material yang mengendap dalam kepala manusia. Dan ideologi-ideologi merupakan pengelompokan ide-ide. Ideologi-ideologi selalu bersifat konservatif, ingin mempertahankan konstelasi sosial tertentu (feodalime, kapitalisme) dengan menyelimuti kenyataan sosial atau mempercantiknya (misalnya dalam faham idealisme hal ini terjadi dengan bantuan filsafat. Bandingkan juga “agama merupakan candu bagi masyarakat”). Hanya materialisme dialektikalah yang merupakan suatu ideologi progresif yang mengungkapkan praxis sosial secara murni dan yang sebaliknya juga merangsang kemajuan sosial.
Dari sini dapat kita simpulkan bahwa materialisme dialektika berlawanan dengan materialisme kuno yang justru ingin mengakui subyek yang aktif, manusia dijadikan kunci memahami alam raya dan materi. Gambaran dialektika mengenai materi dan evolusi kehidupan yang baru dapat dimengerti dari titik akhir evolusi itu ialah dorongan sosial menuju negara sosialis yang mereka anggap membahagiakan. Materialisme dialektika ini ternyata memperlihatkan kekurangan khususnya dalam tulisan Lenin dan Stalin karena kesadaran dilukiskan sebagai pencerminan terhadap alam kebendaan. Marx dalam tulisan-tulisan awal menunjukkan hal lain justru karena demikian menghargai kehidupan sosial serta memberikan peranan aktif kepada kesadaran dan idelogi. Maka ia menyimpulkan bahwa kesadaran itu biarpun tidak boleh ditafsirkan secara idealistis dan lepas dari kehidupan sosial, namun tidak lebih rendah dari materi atau tergantung pada materi.
Kesimpulan
Materialisme adalah salah satu paham filsafat yang banyak dianut oleh para filosof, seperti Demokritus, Thales, Anaximanoros dan Horaklitos. Paham ini menganggap bahwa materi berada di atas segala-galanya. Ketika paham ini pertama muncul, paham tersebut tidak mendapat banyak perhatian karena banyak ahli filsafat yang menganggap bahwa paham ini aneh dan mustahil. Namun pada sekitar abad 19 paham materialisme ini tumbuh subur di Barat karena sudah banyak para filosof yang menganut paham tersebut.
Filsafat materialisme inilah yang mempengaruhi filosof alam dalam menyelidiki asal-usul kejadian alam ini. Di antara filosof-filosof alam tersebut adalah:
  • Thales (625-545 SM) berpendapat bahwa unsur asal adalah air.
  • Anaximenes (585-528 SM) berpendapat bahwa unsur asal adalah udara.
  • Heraklitos (540-475 SM) berpendapat bahwa unsur asal adalah api.
  • Demokritus (460-360 SM) berpendapat bahwa hakikat alam adalah atom-atom yang amat banyak dan halus. Atom-atom itulah yang menjadi asal kejadian alam semesta.
Sedangkan materialisme dialektika secara singkat dapat diterangkan sebagai paham yang berkeyakinan bahwa segala perubahan yang terjadi di alam semesta adalah akibat dari konflik persaingan dan kepentingan pribadi antar kekuatan yang saling bertentangan. Ahli-ahli pikir yang meletakkan dasar bagi sistem ini adalah Karl Marx (1818-1883) dan Friederich Engels (1820-1895). Marx dan Engels menggunakan dialektika untuk menjelaskan keseluruhan sejarah dunia. Marx menyatakan bahwa sejarah kemanusiaan senantiasa didasarkan pada konflik, yang terutama antara kaum buruh (proletar) dan masyarakat kelas atas (borjuis). Ia meramalkan bahwa kaum buruh pada akhirnya akan menyadari bahwa harapan satu-satunya untuk mereka adalah bersatu dan melakukan revolusi. Di negara-negara komunis, materialisme dialektika merupakan filsafat resmi negara.
DAFTAR RUJUKAN:
Bagus, Lorens. 2002. Kamus Filsafat. Jakarta. PT Gramedia Pustaka Utama.
Dika, Ahmad. Komunisme, Masyarakat Tanpa Kelas. Dipublikasikan di http://www.mabesad.mil.id
Graki. J, Drs. Hasbullah. Sistematik Filsafat. Solo. AB Sitti Sjamsijah.
Hanurawan, Dr. Fattah. Pengantar Filsafat Manusia (Sebuah Bunga Rampai). Tri Umvirat Psikologikal Edition.
Peursen, C A Van. 1988. Orientasi di Alam Fisafat. Jakarta. PT Gramedia Pustaka Utama.
Poedjawijatna, I.R. 1974. Pembimbing ke Arah Filsafat. Jakarta. PT Pembangunan.
http://unikunik.wordpress.com/2009/05/03/filsafat-materialisme/
Materialisme
Ketika kita berbicara mengenai Materialisme, kita berbicara mengenai filsafat Materialisme yang berseberangan dengan filsafat Idealisme. Di sini kita harus membedakan Materialisme dengan “materialisme” yang kita kenal dalam perbincangan sehari-hari. Biasanya kalau kita mendengar kata materialisme, kita lantas berpikir ini berarti hanya memikirkan kesenangan duniawi, hanya suka berpesta-pora, mementingkan uang di atas segala-galanya. Dan ketika kita mendengar kata idealisme, kita lalu berpikir ini berarti orang yang punya harapan, yang bersahaja dan punya mimpi dan cita-cita mulia. Pengertian sehari-hari ini bukanlah pengertian yang sesungguhnya untuk Materialisme dan Idealisme dalam artian filsafat.
Sepanjang sejarah filsafat, ada dua kubu utama, yakni kubu Idealis dan kubu Materialis. Filsuf-filsuf awal Yunani, Plato dan Hegel, adalah kaum Idealis. Mereka melihat dunia sebagai refleksi dari ide, pemikiran, atau jiwa seorang manusia atau seorang makhluk maha kuasa. Bagi kaum Idealis, benda-benda materi datang dari pemikiran. Sebaliknya, kaum Materialis melihat bahwa benda-benda materi adalah dasar dari segalanya, bahwa pemikiran, ide, gagasan, semua lahir dari materi yang ada di dunia nyata.
Ini bisa kita lihat dengan mudah. Sistem angka kita yang mengambil bilangan sepuluh, ini adalah karena kita manusia memiliki sepuluh jari sehingga kita pun menghitung sampai sepuluh. Bilamana manusia punya dua belas jari, tidak akan aneh kalau sistem angka kita maka akan mengambil bilangan duabelas dan bukan sepuluh. Jadi konsep dasar matematika bukanlah sesuatu yang datang dari langit, bukanlah sesuatu yang tidak ada dasar materinya. Sedangkan kaum Idealis akan berpikir bahwa bilangan sepuluh ini adalah konsep abadi yang akan selalu ada dengan atau tanpa kehadiran manusia berjari sepuluh.
Bahkan alam sadar kita adalah produk dari materi, yakni otak kita sebagai salah satu organ tubuh kita. Bila mana otak kita rusak karena cedera, maka kita pun akan kehilangan kesadaran kita. Otak kita tidak lain adalah kumpulan sel-sel yang bekerja dengan zat-zat kimia. Maka tidak heran kalau kita menenggak banyak alkohol maka kesadaran kita pun akan terpengaruh, atau kalau kita mengkonsumsi obat-obat terlarang, atau minum obat sakit kepala Paramex yang bisa menghilangkan rasa sakit kepala kita. Kaum idealis sebaliknya mengatakan bahwa kesadaran manusia ini tidak ada sangkut pautnya dengan otak, bahwa kesadaran manusia itu abadi. Ilmu sains telah menihilkan Idealisme dan sekarang kita tahu kalau otak adalah dasar materi dari kesadaran kita.
Kesadaran kita, cara berpikir kita, tabiat-tabiat kita, semua ini adalah akibat dari interaksi kita dengan lingkungan sekeliling kita, yakni dunia materi yang ada di sekitar kita. Petani cara berpikirnya berbeda dengan buruh karena mereka dalam kesehari-hariannya kerja bercocok tanam di sawah, sedangkan buruh harus bekerja di pabrik dengan ratusan buruh lain dan mesin-mesin yang menderu. Oleh karenanya pun metode perjuangan buruh berbeda dengan kaum tani, dan juga kesadarannya. Buruh karena terlempar masuk ke pabrik dalam jumlah ratusan dan ribuan punya kesadaran solidaritas dan berorganisasi yang pada umumnya lebih tinggi daripada kaum tani. Buruh membentuk serikat-serikat buruh, yang dalam sejarah secara umum merupakan lokomotif sejarah. Sedangkan petani, karena biasanya bekerja terpisah-pisah dalam ladang mereka masing-masing, solidaritas dan kesadaran berorganisasi mereka umumnya lebih rendah. Kita mengatakan “secara umum” karena ini tidak menihilkan bahwa ada juga petani-petani yang berorganisasi membentuk serikat tani. Misalnya dulu di Indonesia ada Barisan Tani Indonesia (BTI) yang sangat besar dan kuat, namun BTI pun eksis karena dorongan Partai Komunis Indonesia, yakni Partai yang secara historis berbasiskan pada kelas buruh Indonesia. Selain itu sejarah juga membuktikan bahwa pada umumnya organisasi buruh lebih matang, kuat, dan konsisten daripada organisasi tani.
Dari contoh-contoh ini, tampaknya mudah bagi kita untuk menerima Materialisme sebagai filsafat kita. Namun, di dalam kehidupan sehari-hari, ternyata Idealisme merasuk ke dalam cara berpikir kita tanpa kita sadari. Kaum kapitalis pun giat menyebarkan Idealisme ke dalam cara berpikir rakyat pekerja guna melanggengkan kekuasaan mereka. Ditanamkan ke dalam pikiran kita bahwa ada yang namanya itu sifat alami manusia, dan bahwa sifat alami manusia ini adalah serakah dan egois. Oleh karena sifat alami manusia ini maka kapitalisme, sistem masyarakat yang berdasarkan persaingan antara manusia karena keserakahan mereka, adalah sistem yang paling alami dan akan eksis selama-lamanya sebagai sistem yang paling sempurna dan paling akhir. Ini adalah pembenaran yang sering kita dengar dari para pembela sistem kapitalisme.
Kaum Materialis berpikir berbeda, bahwa sifat serakah dan egois manusia ini bukanlah sifat alami, bukanlah sebuah ide atau gagasan di dalam pikiran manusia yang jatuh dari langit. Materialisme mengajarkan bahwa sifat manusia itu adalah hasil dari interaksinya dengan dunia materi di luarnya, bahwa kesadaran manusia ditentukan oleh keberadaan sosialnya. Maka dari itu, sifat serakah dan egois manusia ini sesungguhnya adalah hasil dari sistem produksi dan sosial yang ada sekarang ini. Maka memang tidak heran kalau kita melihat keserakahan dan keegoisan di masyarakat kita, karena sistem produksi kita yang membuat, atau lebih tepatnya memaksa, manusia menjadi seperti itu. Keserakahan dan keegoisan manusia yang kita saksikan di jaman sekarang ini tidak ditemukan di dalam masyarakat jaman dahulu, ketika sistem produksi dan sosialnya bukanlah kapitalisme. Dari sudut pandang ini, maka bila kita ubah sistem produksi dan sosial masyarakat, maka akan berubah juga tabiat dasar manusia. Tentunya perubahan ini tidak akan terjadi dalam sekejap, namun penggulingan kapitalisme dan pembangunan sosialisme akan menyediakan pondasi untuk pembangunan karakter manusia yang baru, yang tidak berdasarkan keserakahan, tetapi berdasarkan semangat gotong royong yang sejati-jatinya.
Dari sini kita bisa lihat bagaimana filsafat idealisme ini pada dasarnya kontra-revolusioner karena filsafat ini membenarkan kapitalisme sebagai sistem yang alami dan kekal. Sedangkan materialisme adalah filsafat yang revolusioner, karena ia mengajarkan kita bahwa kapitalisme bukanlah sistem yang lahir dari apa-yang-disebut tabiat alami manusia, tetapi justru sebaliknya bahwa tabiat manusia itu adalah hasil dari sistem sosial yang ada.Akan tetapi materialisme tanpa dialektika adalah materialisme yang formalis dan kaku. Tanpa dialektika, materialisme tidaklah lengkap untuk bisa menjelaskan dunia.
Dialektika
Dialektika adalah satu cara pandang atas sesuatu dalam keadaan geraknya dan bukan dalam keadaan diamnya. Proposisi dasar dialektika adalah bahwa segala hal selalu ada dalam proses perubahan yang dinamik, yang seringkali prosesnya tidak terlihat dan tidak bergerak dalam garis lurus.
Untuk memudahkan kita memahami dialektika, ada tiga hukum utama gerak dialektika yang bisa kita rangkum:
1. Perubahan kuantitas menjadi kualitas
2. Kutub berlawanan yang saling merasuki
3. Negasi dari negasi
Ada dua jenis perubahan, yakni perubahan kuantitas dan perubahan kualitas. Perubahan kuantitas adalah satu jenis perubahan yang hanya menyentuh besaran dari sesuatu hal atau benda. Sedangkan perubahan kualitas adalah sebuah perubahan dari satu sifat ke sifat yang lain. Di alam maupun ilmu sosial, kita dapat menyaksikan dua jenis perubahan ini. Hukum dialektika mengajarkan bahwa pada saat tertentu perubahan kuantitas bisa beralih menjadi perubahan kualitas, bahwa perubahan tidak selalu berada dalam garis lurus tetapi pada momen tertentu mengalami loncatan.
Banyak sekali contoh di alam yang menggambarkan hukum dialektika ini, misalnya mendidihnya air. Ketika kita menaikkan suhu air satu derajat dari 20 derajat ke 21 derajat, tidak ada perubahan kualitas. Air masih berbentuk air, yang terjadi hanya perubahan kuantitas. Kita bisa terus naikkan suhu air ini satu derajat per satu derajat, hingga suhu air mencapai 99 derajat, dan air pun masih berbentuk air. Tetapi ketika kita naikkan satu derajat lagi, dari 99 derajat ke 100 derajat, maka sesuatu loncatan terjadi, sebuah perubahan kualitas terjadi. Air mendidih dan berubah menjadi uap. Jadi perubahan satu derajat (perubahan kuantitas) mengakibatkan mendidihnya air menjadi uap (perubahan kuantitas). Hal yang sama juga benar untuk perubahan dari air menjadi es.
Tetapi hukum dialektika ini tidak terbatas pada alam saja, tetapi juga pada hubungan sosial manusia. Revolusi adalah perubahan kualitas. Masyarakat tidak berubah dengan perlahan-lahan atau gradual, tetapi bergerak dengan loncatan-loncatan. Revolusi Prancis 1789, Komune Paris 1871, Revolusi Inggris, Revolusi Rusia, Revolusi Tiongkok, dll. Semua ini adalah perubahan kualitas di dalam gerak masyarakat. Tetapi tidak hanya revolusi saja yang merupakan perubahan kualitas, konter-revolusi pun adalah loncatan, sayangnya loncatan ke belakang. G30S dan periode pembantaian 1965-1966 dapat dilihat sebagai sebuah perubahah kualitas di dalam gerakan buruh Indonesia, yakni perubahan dari periode revolusioner ke periode reaksi, sebuah loncatan ke belakang.
Ledakan gerakan Reformasi 1998 pun adalah satu contoh perubahan kualitas. Setelah 32 tahun di bawah cengkaraman rejim Soeharto, dimana tampak di permukaan tidak ada perubahan kesadaran sama sekali kendati kesengsaraan rakyat yang semakin parah, akhirnya ini semua berubah pada tahun 1997-1998. Rejim kediktaturan Soeharto sudah tidak bisa lagi ditahan, dan rakyat pun hilang rasa takutnya dan terjadi loncadtan kesadaran.
Revolusi Tunisia juga memberikan kita satu contoh lagi akan peralihan dari perubahan kuantitas menjadi kualitas. Banyak orang pintar yang mengutarakan bahwa Revolusi Tunisia ini disebabkan oleh pembakaran diri Mohamed Bouazizi, seorang penjual buah. Mohamed Bouazizi sering ditindas oleh polisi dan akhirnya dia tidak tahan lagi akan penindasan ini sehingga mengakhiri nyawanya dengan membakar diri. Pembakaran dirinya lalu menyulut Revolusi Tunisia yang berhasil menumbangkan diktatur Ben Ali. Namun dia bukan satu-satunya pedagang pasar yang sering ditindas oleh aparat keamanan, dan dia bukanlah yang pertama yang bunuh diri karena tidak tahan kesengsaraan hidup. Di Indonesia sendiri, kita sering baca berita mengenai orang-orang miskin yang bunuh diri karena kemiskinan. Jadi pembakaran diri Bouazizi bisa dilihat sebagai sebuah perubahan kuantitas yang lalu berubah menjadi perubahan kualitas. Dia adalah satu tetes air yang membuat bendungan kemarahan rakyat meluap. Seperti kata Engels, “necessity expresses itself through accident” (keniscayaan mengekspr esikan dirinya lewat kecelakaan/kebetulan). Situasi masyarakat Tunisia memang sudah sangat panas, dan hanya butuh “satu derajat celcius” saja untuk membuatnya mendidih, dan satu derajat ini diwakili oleh pembakaran diri Bouazizi.
Hukum dialektika kedua adalah kutub berlawanan yang saling merasuki. Hukum ini mengajarkan kepada kita bahwa kontradiksilah yang menggerakkan dunia. “Akal sehat” mencoba membuktikan bahwa semua kekuatan yang saling bertentangan adalah eksklusif satu sama lain, bahwa hitam adalah hitam, dan putih adalah putih. “Akal sehat” mencoba menyangkal kontradiksi sebagai bagian dari proses. Dialektika menjelaskan bahwa tanpa kontradiksi maka tidak ada gerak, tidak ada proses.
Hidup dan mati adalah dua hal yang saling bertentangan, tetapi mereka adalah dua proses yang saling merasuki. Kita hidup, jantung kita berdetak, memompa darah ke seluruh tubuh kita untuk memasok oksigen dan nutrisi ke setiap sel tubuh kita supaya mereka bisa hidup dan tumbuh. Tetapi pada saat yang sama, puluhan ribuan sel di dalam tubuh kita mati setiap detiknya, hanya untuk digantikan oleh yang baru. Proses hidup dan mati ini saling merasuki di dalam tubuh kita sampai kita menghela napas terakhir kita. Proses ini yang menggerakkan kita.
Begitu pula masyarakat kita, yang bergerak karena kontradiksi. Revolusi sosial terjadi ketika tingkat produksi manusia sudah bertentangan dengan sistem sosial yang ada. Inilah basis dari setiap revolusi di dalam sejarah umat manusia, dari jaman komunisme primitif, ke jaman perbudakan, ke jaman feodalisme, dan sekarang jaman kapitalisme. Kontradiksi antara tingkat produksi dan sistem sosial terus saling berbenturan, saling merasuki, dan menjadi motor penggerak sejarah. Di jaman kapitalisme, kontradiksinya adalah antara sistem produksi yang bersifat sosial dengan nilai surplus yang diapropriasi secara individual. Tidak ada satupun buruh yang bisa mengatakan bahwa dia sendirilah yang memproduksi sebuah komputer misalnya. Ribuan, bahkan ratusan ribu, buruh dari berbagai industri bekerja bersama memproduksi ribuan komponen terpisah yang lalu dirakit menjadi sebuah komputer. Oleh karenanya sistem produksi kapitalisme adalah sistem produksi sosial. Namun nilai surplus, atau produk tersebut, tidak menjadi milik sosial, dan hanya menjadi milik pribadi, yakni segelintir pemilik alat produksi tersebut. Kontradiksi inilah yang lalu membawa perjuangan kelas -- kadang terbuka kadang tertutup -- antara buruh dan kapitalis, yang terus menerus mendorong masyarakat kita.
Hukum dialektika ketiga adalah negasi dari negasi. Hukum ini bersinggungan dengan watak perkembangan melalui serangkaian kontradiksi yang terus menerus menegasi dirinya. Namun penegasian ini bukanlah penyangkalan penuh bentuk yang sebelumnya, tetapi penegasian dimana bentuk yang sebelumnya dilampaui dan dipertahankan pada saat yang sama.
Manifestasi nyata hukum ini dapat kita lihat di sekitar kita. Contohnya adalah perkembangan sebuah tanaman. Sebuah benih yang jatuh di tanah, setelah mendapatkan air dan cahaya matahari, tumbuh menjadi kecambah. Lalu kecambah ini terus tumbuh menjadi dewasa, dan bila waktunya tiba maka kuncup-kuncup bunga pun muncul. Kuncup bunga ini kemudian menjadi sebuah bunga, dan bunga ini lalu menjadi buah yang mengandung biji-biji benih baru. Kecambah menegasi benih biji, yang lalu dinegasi oleh kuncup bunga. Kuncup ini lalu dinegasi oleh bunga yang mekar sekar, yang lalu sendirinya dinegasi lagi oleh buah dengan biji-biji di dalamnya. Setiap tahapan ini berbeda secara kualitas, saling menegasi tetapi masih mengandung esensi dari tahapan sebelumnya. Setiap tahapan pertumbuhan tanaman ini terus bergerak menjadi satu kesatuan organik.
Benih-benih baru tersebut akan mengulangi siklus yang sama lagi. Namun benih-benih baru ini tidak akan sama dengan benih yang lama, karena dalam proses pembentukannya ia telah menyerap berbagai elemen-elemen dari luar. Dalam bahasa sainsnya, genetika benih baru ini telah mengalami perubahan melalui mutasi genetika yang disebabkan oleh berbagai faktor dan proses seperti sinar ultraviolet matahari, zat-zat kimia, dsbnya., dan juga melalui proses polinasi antar tanaman. Tumbuhan ini mengalami evolusi dan terus berubah. Jadi siklus pertumbuhan tanaman bukanlah sebuah lingkaran tertutup yang terus berputar-putar dan mengulang-ulang, tetapi sebuah siklus yang berbentuk spiral, yang bisa terus naik -- dan juga bisa turun --, yang kalau dilihat dari satu sudut saja tampak seperti berputar-putar di satu tempat, tetapi kalau dilihat secara keseluruhan perputaran ini tidak diam di tempat tetapi bergerak naik secara spiral.
Sejarah pun demikian. Para sejarahwan borjuis terus mencoba membuktikan dan menanamkan di dalam pikiran rakyat kalau sejarah ini hanyalah sebuah pengulangan yang tidak berarti, yang terus bergerak dalam lingkaran tanpa-akhir. Sementara dialektika melihat sejarah sebagai sebuah perkembangan yang di permukaan mungkin tampak seperti pengulangan tak-berarti namun pada kenyataannya ia bergerak terus ke bentuk yang lebih tinggi karena diperkaya oleh pengalaman-pengalaman sebelumnya.
Begitu juga dengan perkembangan gagasan dan sains di dalam masyarakat. Para alkemis zaman pertengahan memimpikan sebuah “batu filsuf” yang mereka percaya bisa mengubah timah menjadi emas. Di dalam pencarian utopis mereka ini, para alkemis ini menemukan berbagai pengetahuan kimia dan teknik-teknik kimia, yang lalu menjadi pijakan awal untuk ilmu kimia moderen. Dengan perkembangan ilmu sains -- yang berbarengan dengan perkembangan kapitalisme dan industri -- ilmu kimia pun tidak lagi digunakan untuk mencari “batu filsuf” dan orang-orang yang masih memimpikan transmutasi timah menjadi emas dianggap gila. Menjadi sebuah hukum bahwa sebuah elemen tidak akan bisa diubah menjadi elemen yang lain. Akan tetapi di dalam perkembangannya, ditemukan bahwa ternyata mungkin untuk mengubah satu elemen menjadi elemen yang lain, dan bahkan secara praktek ini sudah terbukti. Jadi setelah berabad-abad, alkemi menjadi sebuah kenyataan. Tentunya secara ekonomi biaya untuk mengubah timah menjadi emas terlampau besar sehingga membuatnya menjadi tidak praktis. Di masa depan, bila tingkat teknologi dan produksi sudah mencapai ketinggian yang tidak pernah terbayangkan oleh kita, tidak akan mengejutkan kalau kita akan bisa mengubah timah menjadi emas dengan jentikan jari saja. Dengan demikian perkembangan ilmu kimia telah mengalami satu putaran: dari transmutasi elemen (mimpi), ke non-transmutasi elemen, dan kembali lagi ke transmutasi elemen (kenyataan).
Yang benar di alam juga benar di masyarakat, karena pada analisa terakhir gagasan-gagasan manusia mendapatkan dasar-dasarnya dari dunia materi. Pergerakan gagasan manusia, pergerakan masyarakat, semua mengikuti ilmu alam sebagai basis dasarnya. Para filsuf bayaran kaum borjuis ingin memisahkan apa yang benar di alam dengan apa yang benar di masyarakat, karena hukum alam adalah hukum revolusioner. Ia adalah hukum perubahan yang terus bergerak, bukan hanya dalam garis lurus tetapi juga dalam lompatan-lompatan. Setiap kelas penguasa tidak menginginkan perubahan karena mereka ingin terus hidup di dalam surga mereka yang abadi. Keabadian adalah filsafatnya kelas borjuasi. Dengan filsafatnya sendiri, yakni filsafat Marxisme, sebuah filsafat perubahan, kaum buruh akan mengetuk pintu surga abadi kaum borjuis, bila perlu mendobraknya, dan membersihkan surga bumi ini dari parasit-parasit borjuasi itu.
soviet regarda:

Banyak dari kita mengartikan kata materi adalah benda, atau yg lebih spesifik lg yaitu kebendaan, sehingga menimbulkan pemahaman bahwa dalam filsafat materialisme yg harus dipercayai oleh manusia ialah hal2 yg bersifat kebendaan saja.
Yang harus kita dipahami adalah Makna materialis telah mengalami pendistorsian, karena sesungguhnya materialis bukanlah seperti itu. hal ini berawal dari propaganda hitam (black propaganda) yg dilakukan oleh para penguasa modal di seluruh dunia (borjuis internasional) utk mengaburkan makna dari komunisme sesungguhnya karena saking takutnya mereka akan kehilangan harta benda yg telah dimiliki.
Materi bukanlah hanya sebuah kebendaan yg bersifat nyata dalam penglihatan semata. Artinya baik Nampak maupun tidak, ketika ia bisa dirasakan, maka itu adalah sebuah materi. Sebagai contoh: kemerdekaan sebuah Negara, bagi orang yg berpandangan materialis, kemerdekaan bukanlah lahir dr ide semata, tapi ia lahir dr sebuah materi, materi yg diartikan disini ialah keadaan terjajah suatu Negara, jika Negara itu tidak terjajah, maka tdk akan lahir suatu perjuangan merebut kemerdekaan. Itulah yg sebenarnya makna dari filsafat materialis.
Sayangnya Banyak orang yg salah kaprah dlm mendefinisikan filsafat materialis ini (bahkan banyak yg melakukannya secara sengaja utk kepentingan politik tertentu). Salah satunya merunut pada peristiwa G30S 1965, yg dinyatakan oleh salah satu organisasi islam: "PKI membantai banyak orang, karena PKI menganggap bahwa orang atau manusia2 itu hanyalah bersifat materi saja". Sebuah pernyataan yg polos, dan tanpa bukti yg akurat.
Selama ini komunisme/sosialisme diidentikkan sebagai ideologi atheis, yaitu ideologi yg meniadakan tuhan sekaligus meniadakan agama. Mungkin ini bermula dari pernyataan Marx yaitu "agama adalah candu rakyat" yg mengakibatkan kontroversi yg meluas terutama di kalangan agamawan, maka jadilah komunisme dicap sebagai atheisme. Ironisnya, hal inilah yg dijadikan bahan propaganda hitam oleh kaum borjuis yg notabene adalah kontra dr kelas proletar lagi2 untuk mengaburkan makna dari komunis sesungguhnya.
luth:
sori pi-one kalo budha sesuai atau menganut paham materialisme ga??
kaykny ngga ya??tp gtau jg si
gmn pi-one,,
ya materialisme berbahaya bagi kaum yang yakin dengan adanya Tuhan, Surga, Neraka dan hal lain yang bersifat non-iderawi. karena paham ini bisa membuat kaum yang beragama menjadi atheis. Secara normatis paham ini tidak memandang manusia sebagai makhluk bernurani namun hanya sebagai benda dan alat. lebih cenderung kepada kesewenang-wenangan, penegakkan hukum rimba; "yang kuat akan menang dan yang lemah akan mati".
http://www.forumsains.com/agama-dan-filosofi/waspadai-filsafat-materialisme/20/?wap2

Dua Materialisme Filsafat

DUA MATERIALISME DALAM
DUNIA FILSAFAT

MAKALAH
Disusun Untuk Memenuhi Tugas Matakuliah
Ilmu Pengantar Filsafat Umum

Disusun oleh:
Wahyu Irvana
Semester I-B

Dosen Pembimbing:
Drs. Amiruddin, M.Pd
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM "MIFTAHUL 'ULA"
(STAIM)
JURUSAN TARBIYAH PRODI S-1 PAI
NGLAWAK-KERTOSONO
Pebruari, 2009

BAB I
PENDAHULUAN


1.1 Latar Belakang
Akal merupakan kelebihan yang dimiliki manusia dari mahluk lain. Dari akal pula muncul berbagai ilmu pengetahuan, karena pemikiran yang dilakukan akal bersumber pula dari ilmu-ilmu yang telah ada. Dan dengan kemampuan rasio pula manusia dapat menjangkau jauh dari sesuatu yang hanya terlihat (empiris), sesuatu di luar indera dan menemukan sebuah kebenaran filsafat.
Dengan tingkat pemahaman manusia yang beragam menyebabkan perbedaaan pendapat tentang kebenaran yang di anut. Dan hal ini menimbulkan berbagi aliran dalam dunia filsafat, salah satunya adalah filsafat materialisme yang lebih menekankan pada kenyataan dan empirisme. Maka dalam makalah ini akan dibahas aliran yang sarat dengan hal nyata, namun kita harus tahu bagaimanakah filsafat, dan makalah ini akan menjawabnya.

1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka dapat dibuat rumusan masalah, yakni:
1. Apa pengertian dari filsafat?
2. Apa saja objek filsafat?
3. Apa pengertian dari filsafat aliran materialisme?

1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui pengertian dari filsafat.
2. Untuk mengetahui objek dari filsafat.
3. Untuk mengetahui pengertian dari filsafat aliran materialisme.

BAB II
DUA MATERIALISME DALAM DUNIA FILSAFAT


A. FILSAFAT
1. Pengertian Filsafat
Kata falsafah atau filsafat dalam bahasa Indonesia merupakan kata serapan dari bahasa Arab yang juga diambil dari bahasa Yunani philosophia. Dalam bahasa ini, kata ini merupakan kata majemuk dan berasal dari kata-kata (philia = persahabatan, cinta dsb.) dan (sophia = "kebijaksanaan"). Sehingga arti harafiahnya adalah seorang “pencinta kebijaksanaan”. Kata filosofi yang dipungut dari bahasa Belanda juga dikenal di Indonesia. Bentuk terakhir ini lebih mirip dengan aslinya. Dalam bahasa Indonesia seseorang yang mendalami bidang falsafah disebut "filsuf".
Adapun pengertian filsafat menurut para ahli adalah:
a) Plato
Filsafat adalah pengertian segala sesuatu yag ada da ilmu yang berminat mencapai kebenaran asli.
b) Aristoteles
Filsafat adalah ilmu yang terkandung dalam metafisika, logika, etika, ekonomi, politik, dan estetika.
c) Marcus Tulius Cecero
Filsafat adalah ilmu pengetahuan sesuatu Yang Maha Agung dan usaha-usaha untuk mencapainya.
d) Al Farabi
Filsafat adalah ilmu tentang alam maujud dan hakikat yang sebenarnya.



e) Immanuel Kant
Filsafat adalah ilmu yang meliputi 4 persoalan, yaitu: apa yang dapat anda ketahui (metafisika), apa yang boleh kita kerjakan (fisika/logika), apa manusia itu (antropologi), dan sampai mana pengharapan kita (agama).
Dari sini dapat kita ketahui bahwa filsafat adalah segala upaya untuk mencapai kebenaran yang hakiki.

2. Tujuan Filsafat
Tujuan dasar dari filsafat adalah mencapai kebenaran sesuatu yang hakiki, baik berupa logika, metafisika, maupun etika. Namun para ahli berpendapat tentang tujuan filsafat sebagai berikut:
a) Sutan Takdir Alisyahbana
Filsafat bertujuan memberi ketenangan jiwa, fikiran dan hati sekalipun menghadapi maut.
b) Hussein
Filsafat adalah ilmu yang memberi kita hikmah dan kepuasan, sedangkan ilmu pengetahuan memberi kita pengetahuan.
c) Titus
Filsafat adalah tujuan mempelajari alam semesta, makna dan tujuannya.

3. Obyek Filsafat
Obyek yang dikaji dalam filsafat meliputi:
a. Umum, yakni menyelidiki segala sesuatu yang ada, disebut pula ontologi.
b. Mutlak, yakni dzat yang harus ada dan mutlak serta tidak tergantung pada apa dan siapa, tidak berpermulaan dan berpenghabisan, disebut pula TUHAN.
c. Kosmologi (jagat raya), yakni mencari hakikat alam semesta dan hubungannya dengan Yang Mutlak.
d. Antropologi (filsafat manusia), yakni mempelajari segala hal yang berkaitan dengan manusia.
e. Etika (tingkah laku manusia), yakni mempelajari tingkah laku manusia yang dipandang baik maupun buruk.
f. Logika, yakni menggunakan akal atau logis sebagai alat mencari kebenaran.

B. MATERIALISME
1. Pengertian Materialisme
Materialisme merupakan salah satu aliran dalam dunia filsafat. Materialisme adalah aliran yang memandang bahwa segala sesuatu adalah relitas, dan realitas seluruhnya adalah materi belaka. Kenyataan bersifat material dipandang bahwa segala sesuatu yang hendak dikatakannya adalah berasal dari materi dan berakhir dengan materi atau berasal dari gejala yang bersangkutan dengan materi.
Berbicara materialisme, berarti kita memasuki kajian ontologis di dalam kerangka sistematika filsafat yang mana tujuannya adalah mencari hakikat dari segala yang ada dan yang mungkin ada dari segala sesuatu.
Menurut materialisme, hakikat dari segala sesuatu yang ada dan yang mungkin ada adalah materi. Roh, jiwa, spirit dan sebagainya (yakni alam immateril) muncul dari materi. Rohani dan kawan-kawannya itu tidak akan ada seandainya tidak ada materi, termasuk di sini Tuhan yang jelas-jelas tampak tingkat abstraksinya. Adpun dasar pemikiran kaum materialis adalah:
1. Bersifat Empirisme dan Rasionalisme, yakni memahami segala sesuatu atas dasar akal dan indera saja.
2. Bersifat Naturalisme, yakni semua adalah alamiah.
3. Alam merupakan semesta yang bersifat abadi dan sebagai keseluruhan tidak terarah secara lurus kepada satu tujuan tertentu.
4. Jiwa merupakan gejala dari materi.
5. Semua perubahan yang terjadi bersifat kepastian semata.
6. Substansi-substansi materi merupakan penyusun utama sebuah materi dalam hal ini adalah atom.

2. Dua Materialisme Dalam Dunia Filsafat
a. Materialisme Metafisis atau Mekanistis(Ludwig Feurbach)
Ludwig Andreas Feurbach (1804-1872) lahir di Bavaria, Jerman dalam keluarga pengacara, akademisi dan orang-orang beriman yang pintar-pintar. Dalam objek yang ia kontemplasikan, manusia menjadi mengenal dirinya. Kesadaran tentang objek adalah kesadaran diri manusia. Objek adalah manifestasi hakikat manusia sehingga di dalamnya hakikat manusia menjadi gamblang. Kekuatan objek atasnya merupakan kekuatan hakikatnya sendiri. Kekuatan objek dari perasaan, intelek, dan kehendak adalah kekuatan perasaan, intelek dan kehendak itu sendiri.
Aliran ini berpendapat bahwa alam adalah unsur yang terbentuk dari atom materi yang berada sendiri dan bergerak. Aliran ini juga menggunakan energisme, yakni mengembalikan segala bentuk sesuatu pada energi. Mereka juga berpendapat bahwa manusia sama halnya seperti kayu dan batu. Tapi di sini bukan mereka berpendapat bawa manusia sama dengan kayu dan batu, namun pada akhirnya senua adalah materi, hanya materi. Dalam perkembangannya aliran ini dibagi dua periode yakni materialisme lama dan materialisme modern.
Aliran ini juga berpendapat bahwa alam (universe) merupakan kesatuan material yang tak terbatas. Alam, termasuk di dalamnya segala materi dan energi selalu ada dan akan tetap ada. Dan alam (world) adalah realitas yang keras, dapat disentuh, material, objektif, yang dapat diketahui manusia. Materialisme juga mengatakan bahwa jiwa (self) ada setelah materi, jadi psikis manusia merupakan salah satu gejala dari materi yang ada.
b. Materialisme Dialektis atau Historis (Karl Marx)
Materialisme aliran ini adalah aliran atau ajaran dari Karl Marx dilahirkan pada tanggal 5 Mei 1818 di kota Treir daerah Rheen, Prusia, Jerman. Ayahnya adalah seorang pengacara yang berada. Ia adalah keturunan Yahudi yang akhirnya sewaktu masih kecil beserta dengan keluarganya, mereka di baptis menjadi penganut agama Kristen Protestan. Sehingga aliran ini juga sering disebut dengan aliran Marxisme. Adapun pokok-pokok ajaran aliran ini adalah:
1. Teori materialisme historis.
2. Perjuangan kelas (class struggle)
3. Teori nilai dan teori lebih
Adapun disebut dengan Materialisme Historis, karena menurut teorinya arah yang ditempuh oleh sejarah sama sekali ditentukan oleh perkembangan sarana-sarana produksi yang materiil. Marx berkeyakinan bahwa arah sejarah manusia akan manuju pada satu arah yakni komunisme. Dengan kata lain segala kepemilikan pribadi akan diganti dengan kepemilikan bersama. Fase sejarah seperti ini mutlak terjadi, oleh karena itu perjuangan kelas adalah hal utama yang perlu dilakukan.
Sedangkan yang dimaksud dengan aliran Materialisme Dialektik adalah falsafah karl marx bahwa keadaan peristiwa kehidupan akan berubah, seperti layaknya benih pohon yang akan berusaha berubah wujud menjadi pohon. Dalam hal ini marx mengemukakan teori Tese, Antitese, dan Sintese. Tese adalah keadaan awal, dimana manusia hidup pada komunitas asli tanpa pertentangan kelas. Lalu antitese, diman mulai muncul kelas kaum kapitalis dan kaum proletar, maka timbul krisis yang hebat dimana pada akhirnya kaum proletar bersatu untuk mengadakan revolusi. Selanjutnya terjadilah masyarakat tanpa kelas, dimana produksi menjadi hak milik bersama atau negara dan fase inilah yang disebut sintese..
Jadi, dengan dijadikannya dialektika sebagai metode untuk memahami alam dan menempatkan ide materialistisnya dalam kerangka metode itu, maka secara otomatis Mark menolak prinsip-prinsip non kontradiksi dan alam-alam di luar materi.
Namun Karl marx dalam sebuah karyanya menolak dikatakan orang materialis freuerbach, dia lebih mengarahkan teorimya pada kesejahteraan manusia dari segi ekonomi, diman dalam hal ini adalah penolakan terhadap kaum kapitalis dan penyetaraan hak-hak kaum proletar (buruh) yang pada akhirnya menciptakan sebuah gagasa komunisme. Jadi menurutnya hal ini bukan hanya teori belaka namun lebih pada pengaplikasian fakta kehidupan.

BAB III
PENUTUP


A. Kesimpulan
1. Filsafat adalah segala upaya untuk mencapai hakikat sesungguhnya.
2. Tujuan filsafat adalah mencapai hakikat kebenaran dari sesuatu baik logika, metafisika ataupun estetika.
3. Obyek filsafat adalah umum, mutlak, kosmologi, antropologi, etika, dan logika.
4. Materialisme dibagi menjadi dua, yakni materialisme mekanik (Freuerbach) dan materialisme historik (Marx).

B. Saran
1. Filsafat berdasar rasio, jadi sebaiknya memilih filsafat yang berdasar rasio kita, namun jangan pernah takut untuk berfilsafat.
2. Filsafat sebaiknya diiringi oleh agama, yang merupakan kebenaran tertinggi.

DAFTAR PUSTAKA
1. Kattsoff, Louis O. 2004. Pengantar Filsafat. Yogyakarta: Tiara Wacana.
2. Syadali, Ahmad, 2006. Filsafat Umum. Bandung: Pustaka Setia.
3. Praja, Juhaya S. 2005. Aliran-aliran Filsafat dan Etika. Jakarta: Bumi putera.
4. Tafsir, Ahmad. 1997. Filsafat Umum. Bandung:Rosda Karya, Cet.V.
5. Lavine, TZ. 2003. Marx, Konflik Kelas dan Orang yang Terasing. Yogyakarta: Jendela.
6. http://artikeldaniklanbarisgratis.blogspot.com/2008/10/materialisme-metafisis-dan-dialektis.html


Perbandingan antara kelebihan dan kekurangan antara filsafat Materialisme,
Pragmatisme, dan Evolusionisme adalah sebagai berikut:
Materialisme pada dasarnya adalah suatu pandangan hidup yang mencari dasar segalanya,
termasuk juga kehidupan manusia di dalam alam kebendaan semata-mata dengan
mengenyampingkan segala sesuatu yang mengatasi alam inderawi. Lihat Hartoko (1986: 60).
Materialisme juga dapat dibedakan sebagai berikut:
a.
Materialisme metodis. Metode ini khusus digunakan dalam ilmu alam. Presumsinya,
adalah bahwa alam merupakan suatu kebulatan yang semata-mata hanya ditentukan oleh
kualitas mekanistik, segalanya dapat diterangkan secara kuantitatif-matematik.
b.
Materialisme metafisik. Metode ini menjelaskan bahwa seluruh kenyataan diterangkan
secara materialistik. Pada zaman dahulu oleh Demokritos, tepatnya pada zaman Fajar
Budi oleh Hobbes (1588-1679). (Nasution, 2001: 205), dan lihat juga pada Solomon dan
Higgins (1966: xiii-xvii). Menurutnya manusia sama dengan sebuah mesin. Kemudian
pada abad ke-19 oleh Feurbach. Menurutnya manusia adalah hasil kondisi materialnya.
Fikirannya sama dengan getah otak.
c.
Materialisme dialektik. Menurut Karl Marx (1818-1883) lihat Nasution (2001: 2006)
bahwa materi itu menggerakkan dirinya sendiri dan dalam kepala manusia menjadi ide-
ide. Gerak materi terjadi secara dialektik, perubahan kuantitatif mendadak berubah
menjadi gerakan kualitatif.
d.
Materialisme historik. Oleh Marx dialektik material diterapkan pada sejarah. Sejarah
fikiran dan cita-cita manusia sebagai idiologi ―lantai atas pada dasarnya material
ditentukan oleh perubahan dalam kondisi ekonomi, hubungan milik, syarat produksi. Bila
pertentangan antara kaum pemilik dan kaum proletar mencapai puncaknya, maka
meledaklah bangunan politik dan hukum, akibat revolusi masa, dan terbukalah jalan bagi
masyarakat tanpa kelas lewat diktator proletariat. (Hartoko, 1986: 60).
Pragmatisme, Aliran filsafat ini didasari oleh seorang tokoh yang bernama C. S. Peirce
(1839-1914) yang berdekatan dengan Relativisme, Utilitarisme, dan Positivisme.Bukti
kebenaran suatu pernyataan teoritis diukur oleh sejauh mana berguna untuk menyelesaikan
tugas-tugas praktis. Kriteria –menurut pendapatnya—adalah ―kegunaan. (Hartoko, 1986:
84-85).
Evolusionisme. Suatu teori yang menganggap bahwa Evolusi sebagai hukum tertinggi yang
menentukan taraf-taraf kenyataan. Misalnya materi hidup roh. Teori Evolusionisme dalam
bidang biologi itu diterapkan terhadap semua cabang filsafat dan ilmu, khusus terhadap
psikologi, etika, sosiologi, agama, dan sejarah. Teilhard de Chardin berusaha untuk
memadukan teori Evolusi dengan pandangan Kristen Cretio (terciptanya dunia) dan
Providentia(penyelenggaraan ilahi, inayat). (Lihat Hartoko, 1986: 26).
Dari beberapa keterangan di atas dapat diambil beberapa penjelasan, khususnya yang
berkaitan dengan kelebihan dan kekurangan dari ketiga macam aliran filsafat yang sedang
dibahas ini, yaitu: Materialisme, Pragmatisme dan Evolusionisme.
a. Kelebihan
1. Materialisme
Memberikan semangat hidup untuk mengakui bahwa ada kebenaran yang bersifat material di
wilayah jangkauan kapasitas manusia yang juga harus diakui. Sikap radikal tidak percaya pada
hal-hal yang material sama dengan sikap radikal yang tidak percaya pada hal-hal yang
metafisik.
2. Pragmatisme
Dalam situasi chaos/kacau cocok untuk diterapkan pada pengambilan keputusan.
3. Evolusionisme
Benar, dalam ranah kehidupan bahwa segala sesuatu dapat berubah sesuai dengan sifat
alamiyah dan dinamika alam maupun budaya manusia.
b. Kekurangan
1. Materialisme
Tidak mengakui hal-hal yang bersifat metafisik, sehingga menemui jalan buntu jika
dihadapkan pada hal-hal yang tidak terjangkau oleh kapasitas manusia.
Contoh : Adanya Tuhan dan jiwa tidak dipercayai keberadaannya. Sementara hal-hal yang
bersifat material diperlakukan sebagaimana memperlakukan Tuhan. Sementara materi dapat
rusak, Di sisi lain konsekuensi penilaian pada meteri harus dibarengi dengan pengetahuan
terhadap sifat Tuhan dan jiwa yang salah satunya adalah abstak.
2. Pragmatisme
Membawa orang terjebak pada hal-hal yang bersifat untuk sementara tidak memikirkan jangka
panjang.
3. Evolusionisme
Tidak benar, jika ditujukan pada hal-hal yang bersifat ketuhanan. Ada kepastian di ranah
ketuhanan.
Kritik
Sebelum mengkritik dari ketiga aliran dalam dunia Filsafat Barat tersebut (Meterialisme,
Pragmatisme, dan Evolusionisme), harus diketahui terlebih dahulu kekurangan dan kelebihan
mereka.
1. Materialisme
Materialisme menyerang terhadap pandangan bahwa agama sebagai perusak struktur
masyarakat. Contoh : Ada orang kaya berasal dari Allah, demikian juga ada orang yang miskin
berasal dari Allah. Itu merusak struktur masyarakat.
2. Pragmatisme
Yang mengandung kegunaan dan manfaat dalam kehidupan itu bukan hanya kegunaan dan
manfaat dari iman saja, tetapi harus pula mampu diwujudkan dalam aspek amal sholeh
(pragmatisme).
3. Evolusionisme
Evolusi tidak sepantasnya ditujukan pada hal-hal yang bersifat ranah Ketuhanan, melainkan
hanya ditujukan pada ranah Selain-Nya.
SOAL :
2. Filsafat Phenomenologi, Strukturalisme, dan Post Modernisme sangat baik dijadikan
metode kajian untuk memahami suatu konstruk. Coba saudara jelaskan bagaimana cara
kerja masing-masing, dilengkapi dengan contoh agar lebih jelas. Bagaimana pula
penilaian saudara terhadap ketiga pemikiran filsafat tersebut!
JAWABAN :
1. Fenomenologi
Menurut arti kata fenomenologi dapat dianggap sebagai :
a.
Negatif. Semata-mata hanya melukiskan gejala yang nampak, tanpa meneliti hakikat-
hakikat koderat di belakangnya. Lawannya: ontologi.
b.
Positif. Yang ada menampakkan diri lewat gejala-gejala, sehingga hakikat, makna, dan
nadanya. Yang Ada itu dapat disimpulkan berdasarkan gejala-gejala yang kita ―alami.
Pengalaman itu tidak hanya terbatas pada gejala material, melainkan juga menyangkut
hakikat, makna, dan adanya sendiri (Wesensschau). (Lihat : Hartoko, 1986: 30-31). E.
Husserl merintis fenomenologi sebagai aliran filsafat. Metode fenomenologi tidak
mempersoalkan, apakah objek pengalaman itu juga ada lepas dari kesadaran kita (reduksi
fenomenologis). Gejala-gejala harus diajak berbicara, diberi kesempatan memperlihatkan
diri, dapat menjadi ―fenomena (Yunani, phainomi, artinya memperlihatkan diri).
(Hartoko: 1986: 31).
2. Stukturalisme
Strukturalisme – yang modern—adalah suatu aliran yang menekankan bahwa kehidupan kita
ditopang oleh struktur-struktur (rangka atau bangunan, pen.), jauh di bawah kesadaran roh,
struktur-struktur itu merupakan pola-pola, jaringan-jaringan yang memberikan arti dan makna
kepada gambar-gambar material. (Lihat : Peursen, 1985: 240).
3. Post Modern (Posmo)
Posmo sesungguhnya merupakan terminologi untuk mewakili suatu pergeseran wacana di
berbagai bidang seperti seni, arsitektur, sosiologi, literatur, dan filsafat yang bereaksi keras
terhadap wacana modernisme yang terlampau mendewakan rasionalitas sehingga
mengeringkan kehidupan dari kekayaan dunia batin manusia. Filsafat yang delu-elukan sebagai
pemonopoli kebenaran dibunuh ramai-ramai oleh para postmodernis dengan menyerang pilar-
pilar filsafat modern yaitu Rene Descartes dan Immnuel Kant yang masing-masing
menjungjung tinggi rasionalitas dengan mengklaim dorongan-dorongan subjektif-rasional
sebagai marjinal, the other. (Lihat : Adian, 2002: 14). Lebih detail lagi bisa dirujuk dari sebuah
buku yang khusus menjelaskan Posmo, yaitu buku yang dikarang oleh Sugiharto (2004: 23-
28).
Metode untuk Memahami Suatu Konstruk
1. Phenomenologi. Thesis. Sains hanya memiliki satu alur berfikir, sedangkan filsafat memiliki
tiga pemetaan, diantaranya adalah : thesa, antithesa, dan sinthesa. Phenomenologi merupakan
thesis karena dia memiliki pandangan yang hanya terfokus pada masalah yang bersifat diamati
(gejala). Jadi itu merupakan suatu pendapat tersendiri yang disebut dengan thesa.
2. Strukturalisme. Antithesis. Aliran ini memberikan suatu pandangan yang berlawanan dengan
pandangan sebelumnya, yaitu bahwa kehidupan kita ditopang oleh struktur-struktur yang jauh
di bawah kesadaran kita.
3. Post Modernisme (Posmo). Sinthesa. Aliran ini lebih mengarahkan kepada tentang
perkembangan ilmu pengetahuan teori dan pengembangan paradigma atas dasar rasionalitas.
Posmo mengkritik bahwa modernisme – termasuk didalamnya Phenomenologi dan
Strukturalisme—yang membuat manusia untuk membuat prinsip sistem pembuktian, model
logika serta cara-cara tertentu dalam berpikir rasional, sehingga manusia menjadi objek sistem,
bukan menjadi dirinya sendiri. Posmo tetap mengakui rasionalitas, tetapi memberi kebebasan
kepada manusia untuk menempuh jalan kritis, kreatif dalam mencari kebenaran. Posmo bukan
hendak membuktikan kebenaran, melainkan hendak mencari kebenaran. (Lihat: Muhajir,
2001: 199). Posmo juga memiliki metodologi (epistimologi) bahwa suatu pendapat yang
terbuka tak ada ukuran tentang kebenaran. Kebenaran itu ―intersubjektif dan dinamis sifatnya.
Penilaian
Penilaian terhadap ketiga pemikiran filsafat itu cukup baik karena merupakan suatu
proses yang saling melengkapi dari mulai thesa yang diwakili oleh aliran Phenomenologi,
antithesa yang diwakili oleh Strukturalisme, dan antithesa (kontrol) yang diwakili oleh Post
Modernisme (Posmo). Ini berbeda dengan kostruk sains yang mana hanya memiliki satu
pandangan yang monoton, yang hanya didasarkan pada thesa belaka. Itulah kedinamisan kostruk
filsafat.
SOAL :
3. Existensialisme, Sekularisme, dan Marxisme. Merupakan filsafat yang berkembang
setelah masa renaissanse. Bagaimana karakter ketiga filsafat tersebut. Coba saudara
kritisi ketiga filsafat tersebut!
JAWABAN :
1. Eksistensialisme berasal dari dua suku kata, yaitu eksistensi dan isme. Eksistensi sendiri
berasal dari kata ex, yang berarti keluar dan sistare yang berarti berdiri. Jadi eksistensi berarti
berdiri dengan keluar dari diri sendiri. Oleh karena itu secara umum eksistensialisme
dimaksudkan sebagai aliran filsafat yang membicarakan keberadaan segala sesuatu, termasuk
di dalamnya manusia. Hanya, permasalahannya adalah siapakah yang benar-benar berada
(bereksistensi). Apakah manusia, atau Tuhan ataukah keduanya? (Nasution, 2001: 190-191).
2. Sekulerisme. Kata ini berasal dari kata latin saeculum, yang mempunyai arti dengan dua
konotasi ―waktu dan lokasi. Waktu menunjuk pada pengertian ―sekarang atau ―kini dan
lokasi menunjuk pada pengertian ―dunia atau ―duniawi. Jadi Seculum berarti ―zaman ini
atau ―masa kini dan zaman ini atau masa kini menunjuk kepada peristiwa-peristiwa di dunia
ini, dan itu juga berarti peristiwa-peristiwa masa kini. (Al-Atas, 1981: 19).
3. Marxisme. Pemikiran Karl Marx dikenal melalui dua tahapan, yaitu periode awal (1841-
1846) yang lazim disebut dengan periode Marx muda, yakni pencerminan diri Marx sebagai
betul-betul seorang filosof dan belum menjadi ―Marxist”. Di periode ini Marx masih seorang
pemikir liberal dan merumuskan konsepsi tentang manusia, pembebasan (humanisme) dan
alienasi. Sidney Hook menyebut tahap ini sebagai pandangan Marx yang mendasarkan pada
model Yunani, terutama konsepsinya tentang manusia. Tahap berikutnya, kedua dikenal
dengan periode Marx tua (1847-1883) yakni ketika Marx benar-benar menjadi seorang kritikus
masyarakat, sebab pada periode ini ia memaparkan konsepsi perjuangan kelas, revolusi dan
teori-teori ekonomi dan mencapai puncaknya dalam karya Das Kapital. (Bachtiar, 1980 :
100).
Karekter filsafat Existensialis, Sekularis, dan Marxisme
1. Existensialisme
Karekteristik Existensialisme tercermin pada dua tokoh, yakni L. Feurbach (1804-1872) dan
Soren Kierkegard (1855-1855). Keduanya berupaya menampilkan sosok manusia sebagai satu-
satunya yang eksis, sebagai ciptaan terbaik manusia. (Lihat Nasution, 2001: 194). Hal ini
sesuai dengan apa yang telah dikatakan oleh Feurbach di dalam bukunya tentang Hakikat
Agama, dia menyatakan :
―Tugas filsafat adalah mengubah sahabat-sahabat Tuhan menjadi sahabat-sahabat manusia,
mengubah kaum beriman menjadi sahabat-sahabat manusia, mengubah kaum beriman menjadi
pemikir, mengubah orang-orang yang beribadah menjadi orang yang bekerja, mengubah calon-
calon untuk syurga menjadi murid-murid dunia, mengubah orang Kristiani yang menamai
dirinya sendiri separuh malaikat, separuh binatang menjadi manusia seratus persen.
(Hamerswa, 1984: 64).
2. Sekularisme. Pada prinsip yang esensial sekularisme ialah mencari kemajuan manusia dengan
alat materi semata-mata, pembebasan alam dari nada-nada keagamaan dan memisahkannya
dari Tuhan dengan arti kata bahwa sekularisme masuk kepada kategori materialisme yaitu
mengatakan bahwa realitas seluruhnya terdiri dari materi yang berarti bahwa tiap-tiap benda
atau kejadian dapat dijabarkan kepada materi atau salah sati proses material. (Bertens, 1998:
76).
3. Marxisme. Dalam tesis pertama, Marx menggambarkan betapa materialisme kuno, termasuk
di dalamnya Feurbach telah mengabaikan aktifitas revolusioner. Sedangkan dalam tesis Marx
menunjukkan bahwa akal tidak dapat dipisahkan dari tindakan, jangan sampai seperti hasil
filsafat Skolastik. (Mayer, 1951: 433).
Dari segi lain, manusia sebagai individu yang terlepas dari ikatan masyarakat haruslah
dianggap sebagai pandangan yang menyalahi hakikat sejarah, manusia hanya dapat dipahami
sejauh diletakkan dalam kaitannya dengan masyarakat sebab manusia tidak lain hanyalah
keseluruhan relasi-relasi masyarakat. Ringkasnya manusia itu mendapatkan posisinya dalam
kolektifitas sosial. (Ramly, 2000: 77).
Kritisi Terhadap Existensialisme, Sekularisme, dan Marxisme.
1. Existensialisme. Perkembangan setelah renaissans adalah masa modern, yang dikenal sebagai
masa penegasan subjektivitas manusia, sebuah kelanjutan dari semangat zaman renaissans.
Manusia yang tadinya dianggap semata-mata bagian dari alam pada masa Yunani kuno dan
beranjak menjadi pemegang status tertinggi dalam hirarki ciptaan Tuhan pada Abad
Petengahan, sekarang memperoleh status sebagai subjek bebas dan otonom dalam merumuskan
pengetahunan, nilai-nailai, dan kebudayaan. Kecenderungan untuk memandang manusia
sebagai subjek yang otonom dikenal sebagai antroposentrisme pada masa modern. Di
antaranya adalah Existensialisme ini.
2. Sekularisme. Terutama bidang etika dan keagamaan harus dilaksanakan secara ilmiah murni,
terlepas dari ikatan agama dan metafisika.
3.Marxisme. Seseorang yang mempelajari Marxisme tidak dengan sendirinya menjadi seorang
Marxist. Bahkan Karl Marx sendiri merasa dirinya bukan Marxist. Tak ada yang
membahayakan dari pemikiran Karl Marx sejauh dibaca secara kritis, terbuka dan semangat
diskurtif. Bahkan dengan hal itu semua pemikiran Karl Marx bisa menjadi suatu ―inspirasi
selama tidak dipahami secara tertutup, dogmatis, dan membeo.
SOAL :
4. Filsafat Perenial merupakan filsafat yang mencoba mempertemukan nilai-nilai spiritual
berbagai agama yang ada. Coba bandingkan antara konsep Yesus kristus seperti yang
diakui dalam Kristen, dengan konsep al-Hulul al-Halaj, serta Wihdah al-Wujudnya Ibnu
‘Arabi dalam Islam, melalui cara pandang filsafat ini!
JAWABAN :
Filsafat Perennial adalah filsafat yang dipandang dapat menjelaskan segala kejadian yang
bersifat hakiki, yang menyangkut kearifan yang diperlukan dalam menjalani hidup yang benar,
yang menjadi hakikat seluruh agama dan tradisi besar spritualitas manusia. (Hidayat dan Nafis,
1995: xx).
Adapun Spritualisme –sebenarnya—memiliki tujuan yang sama dengan Perrenialisme
dan New Age, yaitu menawarkan hal-hal yang sama, yaitu agar manusia kembali ke akar-akar
spritualitas dirinya tanpa tenggelam dalam gemerlap kehidupan materi yang seringkali membuat
kita silau dan menimbulkan berbagai macam tindakan yang tidak sesuai dengan kemanusiaan
kita. Sehingga, dengan kembali pada pusat spritualitas dirinya, manusia akan memiliki
pandangan dunia (eltanschauung) holistik tentang dirinya, tentang alam, dan tentang dunianya.
(Lihat Ruslani (ed.), 2000: xv). Oleh karena itu , kaum agamawan harus tanggap terhadap
munculnya gejala yang mendambakan adanya spritualitasme. Karena agama, pada awalnya
berurusan dengan spirit. Tetapi hal itu kemudian dilupakan orang sehingga agama menjadi
terlalu formalistis-ritualis. Untuk itulah agama harus kembali mendapatkan penafsiran secara
spritual, karena jika kebutuhan akan spritualitas meningkat, sedangkan agama tidak bisa
memenuhinya maka boleh jadi suatu saat agama akan ditinggalkan manusia.
Setelah memahami tentang pengertian filsafat Perennial dan spritualime, maka kita akan
mencoba mengadakan perbandingan antara konsep Yesus sebagai Kristus dengan konsep al-
Hulul al-Hallaj, serta Wahdah al-Wujudnya Ibnu ‗Arabi dalam Islam melalui cara pandang
filsafat Perennial ini.
1. Konsep Yesus Sebagai Kristus
Nabi Isa menurut umat Kristen turun dari langit dengan wujud roh dan dzat Tuhan sebagai
Kristus (Sang Juru Selamat). Transformasi terjadi setelah mereka merayakan sakramen atau
pertemuan yang menyimpan misteri Yesus Kristus yang dirayakan dan dihadirkan dalam
gereja, setelah mereka menjadi penganut Yesus dalam kehidupan sehari-hari di dalam
kelompok yang sependapat dengan para penganut Yesus yang bersedia melanjutkan misi Yesus
Kristus di dunia. Istirahat dalam Tuhan akan terjadi setelah kematian. Perjalanan hidup kita
dalam keyakinan disempurnakan dalam visi langsung mengenai Tuhan Inilah pandangan
eskatologis atas pengalaman spritual Kristen, yaitu jalan yang menuju masa depan. (Ruslani
(ed.), 2000: 23-25).
2. Konsep al-Hulul al-Halaj
Menurut al-Hallaj bahwa dalam diri manusia terdapat sifat ke Tuhanan dan dalam diri Tuhan
terdapat sifat kemanusiaan. Dengan demikian persatuan antara Tuhan dan manusia bisa terjadi,
dan persatuan ini dalam falsafat al-Hallaj mengambil hulul (mengambil tempat). Dan agar
dapat bersatu itu, manusia harus terlebih dahulu menghilangkan sifat-sifat kemanusiaannya
dengan fana’. Kalau sifat-sifat kemanusiaan itu telah hilang dan yang tinggal hanya sifat-sifat
ketuhanan yang ada dalam dirinya, di situlah baru Tuhan dapat mengambil tempat dalam
dirinya, dan di ketika itu roh Tuhan dan roh manusia bersatu dalam tubuh manusia. (Nasution,
1973: 89). Dan, perlu dipahami bahwa dalam konsep Islam tentang bersatunya Roh Tuhan
dengan roh manusia itu, ―hanya rohnya saja. Jadi, tidak termasuk Dzat-Nya.
3. Konsep Wihdah al-Wujud Ibnu ‘Arabi
Filsafat ini timbul dari faham bahwa Allah sebagai diterangkan dalam paham uraian tentang
hulul, ingin melihat diriNya di luar diriNya dan oleh karena itu dijadikan-Nya alam ini. Maka
alam ini melihat kepada alam. Pada benda-benda yang ada dalam alam, karena dalam tiap-tiap
benda itu terdapat sifat ketuhanan, Tuhan melihat diriNya. Dari sini timbullah faham kesatuan.
Yang ada alam ini kelihatan banyak, tetapi sebenarnya itu satu. Tak obahnya hal ini sebagai
orang yang melihat dirinya dalam beberapa cermin yang diletakkan di sekelilingnya. Di dalam
tiap cermin ia lihat dirinya: dalam cermin itu dirinya kelihatan banyak, tetapi dirinya
sebenarnya satu.(Nasution, 1971: 93).
DAFTAR PUSTAKA
Adian, Donny Gahral, Menyoal Objektivisme Ilmu Pengetahuan (Dari David Hume sampai
Thomas Kuhn), Jakarta: Teraju, 2002.
Bachtiar, Harsia W., Percakapan dengan Sidney Hook, Jakarta: Djembatan, 1980.
Bertens, K., Ringkasan Sejarah Filsafat, Yogyakarta: Kanisius, 1998.
Hamerswa, Harry, Tokoh-tokoh Filsafat Barat Modern, Jakarta: Gramedia, 1984.
Hartoko, Dick, Kamus Populer Filsafat, Jakarta: Rajawali Pers, 1986.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar